TIGA MASLAHAT

Dasar pertama dari setiap perkara adalah al-Qur‘an dan as-Sunnah. Jika al-Qur‘an dan as-Sunnah tidak menjelaskannya, barulah dicari pijakan yang lain.

Dalam sebuah seminar di ibukota, seorang tokoh Islam liberal di negeri ini menyatakan bahwa yang qath’i dari hukum Islam hanyalah maqashidut tasyri’ al-‘am (tujuan umum syariat). Yaitu mewujudkan dan melanggengkan maslahat bagi ummat Islam serta membuang dan meminimalisir mudharat dari mereka. Maksud pernyataan ini dipertegas dengan pernyataannya pada kesempatan yang lain, bahwa di daerah kutub yang berhawa sangat dingin, vodka dan sampagne ~minuman beralkohol kadar tinggi~ hukumnya bisa halal. Atau keheranannya kepada salah seorang kawannya yang mencari-cari label halal pada bungkus coklat yang hendak dibelinya. Menurutnya, asalkan coklat itu higienis ~walau terbuat dari babi~ maka hukumnya halal.

Bagi orang-orang kutub, vodka mendatangkan maslahat; dapat menghangatkan badan. Dan coklat yang higienis tidak mendatangkan mudharat bagi orang yang mengkonsumsinya. Begitu kira-kira simpulan yang ada di benaknya.

Alasannya?
Empat belas abad yang lalu, tujuh puluhan sahabat yang banyak menghafal al-Qur‘an syahid pada peperangan Yamamah di masa pemerintahan Abu Bakar ash-Shidiq. Memandang kemaslahatan umat dan menjaga al-Qur‘an dari kepunahan, Umar bin Khaththab mengusulkan kepada khalifah supaya tulisan ayat-ayat al-Qur‘an yang terserak dikumpulkan menjadi satu mush-haf.

Hal ini tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah n. dan karenanya Abu Bakar menolak usulan

ini. Namun, setelah Umar menjelaskan berkali-kali Abu Bakar mengerti bahwa tidak semua yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah saw. itu terkategorikan secara langsung sebagai perbuatan bid’ah.

Masalah tidak berhenti sampai di situ. Ketika mereka berdua menemui Zaid bin Tsabit, salah seorang penulis wahyu yang ditunjuk oleh Rasulullah n, sikapnya pun tidak berbeda dengan sikap Abu Bakar. Mula-mula ia menolaknya karena khawatir melakukan perbuatan bid’ah. Namun setelah berkali-kali mereka berdua menjelaskannya, hatinya pun dibuka oleh Allah untuk menerimanya.

Dan proyek besar pun dimulai. Sejumlah sahabat yang hafal al-Qur‘an dikumpulkan. Begitu pula dengan para sahabat yang menyimpan tulisan ayat-ayat al-Qur‘an diminta untuk meminjamkannya kepada panitia penulisan al-Qur‘an.

Tidak Semua Maslahat
Selain keyakinan bahwa yang qath’i dari syariat Islam hanya tujuan umumnya, letak kekeliruan tokoh Islam Liberal itu adalah pada anggapannya bahwa semua maslahat itu sama. Padahal tidak demikian adanya. Para ulama di bidang Ushul Fiqh bersepakat bahwa maslahat itu ada tiga:

Pertama, maslahat yang disebut para ulama sebagai mashlahah mu’tabarah. Yaitu maslahat hal mana untuk mewujudkannya Allah menetapkan suatu hukum; baik dalam al-Qur‘an maupun as-Sunnah.

Misalnya, terjaganya kehormatan dan keturunan. Untuk mewujudkan maslahat itu, Allah telah memerintahkan umat Islam untuk menikah bagi yang telah mampu.

“Maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat.” (an-Nisa`: 3)

“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kalian, dan orang-orang yang patut (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya.” (an-Nuur: 32)

Misal yang lain, untuk mewujudkan maslahat ‘pentingnya kesehatan jasmani’ Allah memerintahkan kita untuk:

“Makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (al-A’raf: 31)

Kedua, maslahat yang disebut para ulama sebagai mashlahah mulghah. Yaitu maslahat yang dinyatakan batal oleh syariat. Dan untuk menegaskan batalnya maslahat itu Allah menetapkan suatu hukum yang berseberangan dengan maslahat ini. Artinya maslahat ini adalah maslahat dalam pandangan manusia. Sedangkan dalam pandangan syari’at maslahat ini bukan maslahat melainkan mafsadat (keburukan).

Misalnya, maslahat yang ada pada riba. Di dalam al-Qur‘an Allah menegaskan bahwa hukum riba adalah haram. Sebanyak dan seistimewa apa pun maslahat yang ada pada riba, hal itu tidak diakui oleh syariat dan bahkan dinyatakan batal.

“Padahal Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (al-Baqarah: 275)

Misal yang lain, kandungan gizi yang ada pada daging babi. Setinggi apa pun kandungan gizi yang ada pada daging babi, syariat tidak menganggapnya dan bahkan kita diperintahkan untuk menjauhinya.

“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan atasmu (memakan) bangkai, darah, daging babi dan apa yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah.” (an-Nahl: 115)

Misal yang lain lagi, maslahat perdamaian yang akan terwujud jika tidak ada perang.

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahu, sedang kamu tidak mengetahui. (al-Baqarah: 216)

Secara implisit ayat ini menjelaskan bahwa maslahat perdamaian ~dengan membiarkan aturan Allah diinjak-injak~ bukanlah maslahat. Mafsadat atau mudharat yang ditimbulkan peperangan dalam rangka menegakkan aturan Allah tidak lebih berharga daripada maslahat berlakunya aturan dan undang-undang Allah.

Ketiga, maslahat yang disebut para ulama sebagai mashlahah mursalah. Yaitu maslahat yang tidak dijelaskan oleh syari‘at. Maknanya, tidak ada hukum yang ditetapkan oleh Allah secara khusus untuk mewujudkan maslahat itu, namun juga tidak ada dalil yang membatalkannya sebagai sebuah maslahat.

Misalnya pembagian ilmu menjadi aqidah dan syari‘ah. Atau pembagian tauhid menjadi tauhid uluhiyah, tauhid rububiyah, dan tauhid asma‘ wa shifat. Dalam pembagian itu ada maslahatnya, yaitu memudahkan para thalibul ‘ilmi dalam memahaminya. Ini tidak ada dalil khusus yang memerintahkannya sebagaimana tidak ada ayat atau hadits yang melarangnya.

Sejauh mana kehujjahan mashlahah mursalah ini? Kita simak pernyataan Syeikh Muhammad Amin asy-Syinqithiy (al-Mashalih al-Mursalah hal. 21) berikut ini.

“Walhasil, para sahabat memang berpijak pada mashlahah mursalah. Yaitu maslahat yang tidak dibatalkan oleh suatu dalil atau maslahat yang tidak diikuti oleh mafsadat yang lebih besar ataupun sama. Demikian pula halnya dengan para imam madzhab. Pada hakekatnya mereka pun berpegang kepadanya, meskipun di antara mereka ada yang menyatakan diri menjauhinya. Barangsiapa meneliti realita sejarah para sahabat dan rincian pendapat madzhab-madzhab, niscaya akan mengetahui kebenaran hal ini.Namun demikian, beramal dengan berdasarkan mashlahah mursalah mesti menghadirkan kehati-hatian dan kewaspadaan ekstra, supaya maslahat yang hendak dicapai benar-benar terwujud dan bukannya kehilangan maslahat yang lebih besar atau datang mudharat yang lebih besar daripada maslahat itu sendiri…”

Syarat Berdalil dengan Mashlahah Mursalah
Berikut ini syarat-syarat yang mesti dipenuhi jika kita hendak beramal dengan berpijak pada mashlahah mursalah.

1. Maslahat itu tidak boleh berseberangan dengan nash.

2. Maslahat itu harus bermuara kepada penjagaan terhadap maqashidut tasyri’.

3. Maslahat itu bukan pada perkara-perkara yang telah baku dan tidak akan berubah seperti wajibnya shalat, haramnya bangkai, hukuman bagi pezina, nishab zakat, dan semua perkara yang tidak bersifat ijtihadi.

4. Maslahat ini tidak boleh diiringi oleh mafsadat yang lebih besar daripada maslahat itu sendiri. Bahkan mafsadat yang sama pun tidak boleh mengiringinya.

Dasar pertama dari setiap perkara adalah al-Qur‘an dan as-Sunnah. Jika al-Qur‘an dan as-Sunnah tidak menjelaskannya, barulah dicari pijakan yang lain; salah satunya mashlahah mursalah ini. Jadi kehujjahan mashlahah mursalah tetap dalam koridor al-Qur‘an dan as-Sunnah, tetap dalam semangat memberlakukan syariat Allah dalam kehidupan. (Ar risalah Jul 04)

Wallahu a’lam.

Iklan

Silahkan Komentar dan Berbagi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s