HUKUMAN MATI BAGI SI MURTAD

Misal perbandingan antara Islam dengan Sekolah memang kurang tepat. Masalahnya, Islam (menurut Islam itu sendiri) adalah satu-satunya agama yang benar dan diterima di sisi Allah; sedang sebuah sekolah, tidak bisa mengklaim diri sebagai satu-satunya sekolah yang sah. Sebuah sekolah juga tidak pernah mewajibkan semua orang bersekolah dan resiko tidak bersekolah juga tidak fatal. Sedangkan resiko tidak berislam adalah api neraka yang jelas bukan bencana tsunami.

Hukuman mati bagi orang murtad memang ada dalam hukum Islam. Namun (seperti halnya hukum potong-tangan, rajam, dan hudud lainnya) untuk menjalankannya membutuhkan perangkat “daulah” atau pemerintahan yang resmi dan diakui (secara de facto dan de jure) menjalankan hukum syariat. Bila perangkat hukum tersebut ada, maka mereka berhak untuk menjalankannya demi hukum (tentunya bagi warga negaranya yang muslim). Terlepas dari masalah mereka dianggap melanggar prinsip kebebasan dan HAM sehingga dicap sebagai “negara pelanggar HAM” yang harus diboikot dan diinvasi oleh sang polisi dunia. Adapun bila daulah tersebut merupakan “khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah” atau sebentuk pemerintahan global yang tidak mengenal sekat-sekat teritorial, maka hukum tersebut berlaku atas seluruh kaum muslimin di seluruh dunia. Bedanya ketika itu (pada saat khilafah tersebut eksis dan efektif), tidak ada lagi cap pelanggaran HAM bagi mereka, karena yang menjadi “polisi dunia” ketika itu bukan lagi PBB, Amerika atau negara liberal manapun, melainkan khilafah itu sendiri.

Begitulah sekelumit gambaran tentang syariat Islam yang berkaitan dengan masalah hukum murtad. Menyinggung tentang prinsip kebebasan dan hak asasi manusia, itu bukanlah segala-galanya. Menurut Islam ada hak asasi yang lebih mendasar dan prinsipil dibanding itu semua. Yaitu Hak Asasi Tuhan. Dalam sebuah Hadits Shahih Bukhari-Muslim, Nabi saw menyatakan bahwa ada “haq Allah atas manusia dan haq manusia atas Allah”. “Haq Allah atas manusia” yaitu agar Dia disembah (dengan ibadah yang benar) dan tidak dipersekutukan dengan sesuatu apapun. Sedangkan “haq manusia atas Allah” manakala mereka telah melaksanakan “haq Allah” tadi adalah bahwa mereka akan dimasukkan ke dalam surga. Model dan konsep “haq asasi” ini bersifat vertikal dan berdimensi dunia-akhirat. Tentunya jauh lebih tinggi dan berharga dibanding segala hak-hak lainnya.

Dua ayat yang sering dikutip orang untuk menyalahartikan kebebasan beragama yaitu 2:256-257 dan 18:29 *) kalau kita jujur dan utuh membacanya maka tampak sekali bahwa “kebebasan” yang ditawarkan itu bukanlah kebebasan tanpa konsekwensi (seperti yang diidam-idamkan para pengikut hawa nafsu). Melainkan kebebasan yang berkonsekwensi. Setiap pilihan ada resiko dan konsekwensinya. Tidaklah sama antara terang dan gelap, iman dan kufur, baik dan buruk (renungkan baik2 QS 68:35-40) **). Ada konsekwensi di dunia dan ada konsekwensi di akhirat. Untuk yang terakhir ini, kiranya tidak perlu saya perjelas, terlalu mengerikan…. (tsunami tidak ada apa-apanya). Sedangkan konsekwensi di dunia menyangkut aturan syariah terhadap orang kafir (non-muslim); mulai dari persoalan “larangan memberi ucapan selamat natal” (sebagai contoh) hingga “hukuman mati dan perang” bagi kafir harbi (kafir yang bersikap ofensif thd Islam). Tentu saja semuanya dilakukan dengan syarat, aturan dan adab-adab tertentu. Terlalu panjang dan akan tidak efisien untuk kita uraikan satu-persatu di sini. Demikian pula tentang hukum rajam, saya merasa tidak perlu terjebak untuk membahas dari tinjauan fiqh dan ushul fiqh. kerancuan dan kecurangan kaum liberal kristen dll adalah mereka tidak pernah konsisten dalam melakukan analisa hukum, tidak jelas aqidah dan qaidahnya (namanya juga liberal atau kristen) lantas mereka menuduh ulama ummat ini (yang berpegang dengan aqidah dan qaidah islam) melakukan “siasat hukum”. Siapa sebenarnya yang bersiasat? Ushul fiqh dibuat bukan untuk menyiasati hukum (pelajari sejarah tasyri’) melainkan untuk melindungi hukum agar tidak dijadikan karet dan gabus oleh orang-orang jahil dan pengikut hawa nafsu (liberal dan kristen).

Kesimpulannya, hukuman mati bagi orang murtad adalah sah dan operasional dengan sejumlah prasyarat tertentu. Adapun bila (menurut pandangan liberal) dianggap melanggar prinsip kebebasan dan HAM, yah silakan saja. Asalkan jangan membawa-bawa nama Islam dalam pandangan liberal. Apa perlunya Islam dengan yang namanya “liberal-liberalan”. Jadi, terserah anda, “al-Haqqu min rabbikum faman sya-a falyu’min wa man sya-a falyakfur” (Kebenaran itu dari Tuhan kalian maka siapa yang mau silakan beriman dan siapa yang mau silakan kufur)!

Sekian.

4 Comments

Silahkan Komentar dan Berbagi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s