AGAMA BARU ITU BERNAMA PLURALISME

 
Fatwa MUI tentang Pluralisme Agama sudah tepat meskipun terlambat. Sebab, paham ini sudah sedemikian lama dikembangkan – dengan dukungan dana dan fasilitas yang luar biasa – sehingga penyebarannya juga bersifat massif dan infiltratif. Meskipun segelintir pihak menentang fatwa MUI sebagai kekonyolan dan ketoloian, MUI tetap kukuh dan mustahil mencabut fatwanya kembali.
 
Alhamdulillah, akhirnya fatwa MUI tentang paham Pluralisme Agama dikeluarkan. Fatwa tersebut dengan tegas menyatakan bahwa Pluralisme Agama haram dan bertentangan dengan ajaran Islam. Meskipun sudah agak terlambat, ketetapan MUI tersebut sangat patut disyukuri. Fatwa MUI tentang Pluralisme Agama ini merupakan suatu keberanian, karena paham yang disebarkan oleh ke-kuatan global ini bukan main besar dukungan politis dan biayanya. Karena itu, wajar jika MUI terus-menerus dihujat dan dicaci karena berani mengeluarkan fatwa tersebut.”

 

Hal itu dikatakan oleh Dosen Perban-dingan Agama Universitas Islam International Malaysia, Anis Malik Thoha, PhD dalam Diskusi Panel: “Fatwa MUI tentang Sekularisme, Liberalisme dan Pluralisme Agama” yang diselenggarakan Dewan Dakwah Islamiyyah Indonesia (DDII) beberapa waktu lalu di Jakarta. Dalam diskusi tersebut, juga hadir Dr. Ugi Suharto (Direktur Eksekutif INSIST), Adian Husaini (Kandidat Doktor IsTAC-IIUM Kuala Lumpur), KH. Cholil Ridwan (Ketua MUI), dan Husein Umar (Ketua DDII).

Menurut Anis Malik Thoha yang juga Rois Syuriah NU Cabang Istimewa Malaysia, untuk memahami wacana Pluralisme Agama, perlu ditelusuri sejarahnya, paling kurang, sejak awal abad ke-20. Ketika itu, seorang teolog Kristen Jerman bernama Ernst Troeltsch mengungkap perlunya bersikap pluralis di tengah berkembangnya konflik internal agama Kristen maupun antar-agama. Dalam artikelnya yang berjudul “The Place of Christianity among the World Religions”, Ernst Troeltsch mengatakan, umat Kristiani tidak berhak mengklaim paling benar sendiri.

Pendapat senada banyak dilontarkan sejumlah pemikir dan teolog Kristen lainnya seperti William E. Hocking dan sejarawan terkenal Arnold Toyribee. Oleh karena itu, gerakan ini dapat dikatakan sebagai “liberalisasi agama Kristen” yang telah dirintis dan diasaskan oleh tokoh Protestan Liberal, Friedrich Schleiermacher, pada sekitar perte-ngahan abad ke-19 lewat pergerakannya yang dikenal dengan “Liberal Protestantism”.

Konflik internal Kristen yang hebat ketika itu telah mendorong Presiden AS, Grover Cleveland, turun tangan untuk mengakhiri perang antar aliran tersebut. Pada awal-awal abad ke-20 juga mulai bermunculan ber-macam-macam aliran fundamentals Kristen di AS. Jadi, selain konflik antar aliran Kristen, ternyata faktor politik juga sangat terkait dengan latar belakang gagasan ini.

Lebih lanjut, Anis Malik Thoha menje-laskan, sebagai suatu bentuk liberalisasi agama, Pluralisme Agama adalah respon teologis terhadap political pluralism yang telah cukup lama digulirkan sebagai wacana oleh para peletak dasar-dasar demokrasi pada awal-awal abad modern, yang secara nyata dipraktikkan oleh AS. Kecenderungan umumdunia Barat waktu itu tengah berusaha menuju modernisasi di segala bidang. Dan salah satu cirri dan modern yang dihembus-kan adalah demokrasi, globalisasi dan HAM. ‘Jika dilihat dari konteks ini, maka Pluralisme Agama pada hakekatnya adalah gerakan politik dan bukan gerakan agama. Setiap manusia dipandang sama, tidak ada ras, suku, bangsa atau agama yang berhak mengklaim bahwa dirinya paling unggul,” paparAnis.

Pembela Sipilis

Seperti diberitakan sebelumnya, pada 29 Juli 2005 lalu, MUI menetapkan fatwa, bahwa sekularisme, liberalisme, dan pluralisme agama adalah paham yang bertentangan dengan ajaran Islam dan haram bagi umat Islam memeluknya. Ada yang menyingkat ketiga paham itu sebagai “sipilis” (sekularisme, pluralisme, dan liberalisme). Berbagai komentar sudah muncul terhadap fatwa tersebut. Sayangnya, pengkritis fatwa MUI yang tidak jujur dan tidak paham dengan hakekat paham ini.

Saat ulang tahun Abdurrahman Wahid alias Gus Dur yang ke-65, yang dirayakan pada Kamis (4 Agustus 2005) lalu, berulang kali terdengar pekik “Hidup Pluralisme” dan “Tolak Fatwa MUI”. Perayaan ulang tahun Gus Dur juga sekaligus mengusung tema “Merayakan Pluralisme”. Acara Ultah tersebut adalah contoh bagaimana kerasnya penolakan terhadap fatwa MUI tersebut.

MUI sendiri mendefinisikan Pluralisme Agama (PA) sebagai suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama, dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relatif oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar, sedangkan agama yang lain salah. Pluralisme juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup berdampingan disurga.”

Definisi MUI itulah yang kemudian dikritik beberapa pemeluk dan penyebar paham pluralis dan liberalisme ini. Direktur International Centre for I slam and Pluralism Syafi’i Awar menilai, fatwa-fatwa MUI itu adalah sebuah kemunduran yang luar biasa. Bahkan dedengkot JIL (Jaringan Islam Liberal) Ulil Absar Abdalla mencela fatwa MUI sebagai kekonyolan dan ketololan.

Dalam disertasinya, Greb Barton menjelaskan beberapa prinsip gagasan Islam liberal yang dikembangkan di Indonesia: (a) Pentingnya kontekstualisasi ijtihad, (b) Komitmen terhadap rasionalitas dan pembaruan, (c) Penerimaan terhadap pluralisme sosial dan pluralisme agama-agama, (d) Pemisahan agama dari partai politik dan adanya posisi non-sektarian negara.

Menurut Barton, ada empat tokoh Islam Liberal di Indonesia, yaitu Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Nurcholish Madjid (Cak Nur), Ahmad Wahib, dan Djohan Effendi (sumber: “Gagasan Islam Liberal di Indonesia, Penerbitan Paramidana, Jakarta, 1999).

Karena itu, menjadi tidak sinkron dan jauh melenceng bila mendengar pernyataan Syafi’I Anwar dalam mendefinisikan pluralisme agama, dengan mengatakan, bukan menyamakan semua agama, melainkan saling menghormati.

Pluralisme agama itu sendiri adalah istilah khas dalam teologi. Nurcholish Madjid menyatakan, ada tiga sikap dialog agama yang dapat diambil. Yaitu, pertama, sikap eksklusif dalam melihat agama lain (agama-agama lain adalah jalan yang salah, yang menyesatkan bagi pengikutnya). Kedua, sikap inklusif (agama-agama lain adalah ntuk implisit agama kita). Ketiga, sikap pluralis (agama-agama lain adalah jalan yang sama-sama sah untuk mencapai kebenaran yang sama atau setiap agama mengekspresikan bagian penting sebuah kebenaran).

Di dalam bukunya, pernah menulis buku berjudul “Samakah Semua Agama?, Dr. J. Verkuil menceritakan sebuah hikayat Nathan der Weise (Nathan yang bijaksana). Nathan adalah seorang Yahudi yang ditanya oleh Sultan Saladin tentang agama manakah yang terbaik, apakah Islam, Yahudi atau Nasrani. Lalu dijawab Nathan, semua agama itu intinya sama saja. Perlu diketahui, hikayat Nathan itu ditulis oleh Lessing (1729-1781), seorang Kristen yang mempercayai bahwa intisari agama Kristen adalah Tuhan, kebajikan, dan kehidupan kekal. Intisari itu, menurutnya, juga terdapat pada Islam, Yahudi dan agama lainnya.

Dalam Konferensi Parlemen Agama-agama di Chicago tahun 1893, diserukan bahwa tembok pemisah antara berbagai agama di dunia ini sudah runtuh. Konferensi itu akhirnya menyerukan persamaan antara Kong Hu Tsu, Budha, Islam dan agama-agama lain. Mereka juga berkesimpulan bahwa berita yang disampaikan oleh para nabi itu sama saja.


Vatikan Menolak



Sangatlah aneh bila Ulil cs telah menyamakan semua agama. Padahal tokoh Kristen sendiri, seperti Frans Magnis Suseno telah menolak keras Pluralisme Agama. Menurut Magnis. Pluraslisme Agama, sebagaimana diperjuangkan di kalangan Kristen oleh teolog-teolog seperti John Hich, Paul F. Knitter (Protestan) dan Raimundo Panikkar (Katolik), adalah paham yang menolak eksklusivisme kebenaran. Bagi mereka, anggapan bahwa hanya agamanya sendiri yang benar merupakan kesombongan.

Paham-paham Pluralisme Agama, menurutnya, jelas-jelas ditolak oleh Gereja Katolik. Pada tahun 2001, Vatikan menerbitkan penjelasan “Dominus Jesus”. Penjelasan ini, selain menolak paham Pluralisme Agama, juga menegaskan kembali bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya pengantar keselamatan ilahi dan tidak ada orang yang bisa ke Bapa selain melalui Yesus. Di kalangan Katolik sendiri, Dominus Jesus menimbulkan reaksi keras. “Toleransi tidak menuntut agar kita semua menjadi sama. Toleransi.yang sebenarnya adalah menerima orang lain, kelompok lain, keberadaan agama lain, dengan baik, mengakui dan menghormati keberadaan mereka dalam keberlainan mereka! Toleransi justru bukan asimilasi, melainkan menghormati penuh identitas masing-masing yang tidak sama,” ujar Frans Magnis Suseno.

Dikatakan Adian Husaini, fatwa MUI tentang Pluralisme Agama sudah tepat, meskipun sebenarnya terlambat. Sebab, paham ini sudah sedemikian lama dikembangkan – dengan dukungan dana dan fasilitas yang luar biasa – sehingga penyebarannya juga bersifat massif dan infiltratif. “Lihat saja, meskipun MUI sudah mengharamkan paham ini, tetap saja ada tokoh yang menyebarkannya. Misal-nya, artikel Tarmizi Taher di Dialog Jumat Republika (5/8/2005), yang berjudul ‘Agama dan Konflik’ secara terang-terangan mengimbau kaum Muslim untuk memeluk paham syirikini.”

Ditulis Tarmizi, pluralisme agama sebagai salah satu unsurterpenting demokrasi harus menjadi fokus utama semua orang. Jika selama ini pluralisme belum terpahamkan lewat dialog, maka harus ada sosialisasi lewat media publik, seperti kampanye, pemutaran film, penerbitan bulletin ke pedesaan, kelompok kajian, partai politik, dan lain-lain.

“Mungkin Tarmizi Tahir sendiri tidak paham dan tidak sadar akan makna Pluralisme Agama,” kata Adian sweraya menambahkan, “Yang jelas, tulisan Tarmizi Tahir dapat diambil sebagai kasus, yang menggambarkan, bagaimana orang yang selama ini dikenal sebagai ‘bukan tokoh Liberal’ pun turut menyebarkan paham yang destruktif terhadap akidah Islamiyah ini, meskipun sudah ada fatwa MUI yang mengharamkannya.” (amanahonline)





APAKAH ANDA MASIH BANGGA DENGAN SEJUTA DOKTRIN BULLSHIT JARINGAN IBLIS LIBERAL??????????


 
JANGAN LUPA BACA ARTIKEL LAIN NYA
 

Iklan

1 Comment

  1. Boleh saja tiap orang termasuk akademisi berbicara tentang pluralisme tapi disatu sisi kita juga harus menjaga logika akal kita agar sehat dalam cara memahami Tuhan,agama dan kebenaran.analoginya ibarat kita masuk ke satu kota mencari sebuah alamat yang asing bagi kita lalu kita bertemu dengan empat orang yang menunjukan arah ke tempat yang kita cari itu tapi ke empat orang itu masing masing menunjuk ke arah yang berbeda beda,yang satu menunjuk ke arah ke timur,yang satu ke arah barat,yang satu ke arah utara,yang satu ke arah selatan.bila kita masih punya akal sehat maka mustahil kita mengatakan semua benar.
    Analogi lain : bila guru kita memberi pertanyaan dengan memberi banyak pilihan jawaban (a atau b atau c atau d) maka logika nya apakah kita akan membenarkan semuanya (?)
    Tuhan menguji akal kita dengan berbagai realitas yang beragam seperti guru memberi beragam pilihan jawaban.artinya untuk mencari mana sebenarnya yang benar.memang Tuhan memberi kita akal tapi seringkali jarang dipakai oleh manusia,akal dewasa ini sering kalah oleh derasnya arus pemikiran bebas, dimana siapa yang tak mengikuti arus itu ia acap kali dianggap ‘ketinggalan zaman’.(beda jauh antara akal dengan pemikiran bebas yang seringkali tidak memperdulikan kaidah logika akal),hasil dari berfikir menurut logika akal adalah pandangan yang rasional (bisa difahami oleh cara berfikir yang tertata) sedang hasil pemikiran bebas contohnya adalah isme yang cara berfikirnya spekulatif-tidak tertata-meraba raba bertolak belakang dengan kaidah cara berfikir logika akal yang tertata secara konstruktif.
    Pluralisme dalam arti sebatas pergaulan sosial yang baik terhadap siapapun memang diajarkan Rasullulah tapi bila sudah mengarah kepada menolak atau membenci klaim kebenaran mutlak dari agama Ilahi itu artinya sudah ingin memposisikan semua agama sebagai ‘tak ada yang mutlak benar’.dan ini berlawanan dengan konsep seluruh nabi dan Rasul.sebab itu bila ada klaim kebenaran mutlak dari agama Ilahi maka jangan a priori tapi telusuri dengan cara berfikir logika akal yang tertata-konstruktif mengapa sampai lahir klaim demikian,artinya kaji argumentasi ilmiahnya.
    Ingat di akhir zaman ini godaan bagi kalangan intelektual senantiasa datang dari ‘kacamata merah’ yaitu cara pandang yang di konsep oleh pemikiran bebas manusia yang (ujungnya) melihat agama dengan cara pandang tertentu sehingga apapun yang ada dalam agama nampak jadi ‘merah’ (negativ/keliru-meragukan-tidak mutlak dlsb.).
    Muslim tentu boleh berkotbah tentang sikap-perilaku baik kepada semua agama tapi itu tak harus mengorbankan essensi agama sendiri sehingga malu atau segan atau tak mau lagi mengklaim agama sendiri sebagai konsep kebenaran yang bersifat mutlak.apalagi bila antipati atau penolakan klaim kebenaran mutlak itu dilakukan seorang yang mengaku ‘muslim’ dengan menggunakan apa yang dianggapnya‘dalil argumentasi ilmiah’.sedang Rasullulah sendiri yang selalu mencontohkan sikap-perilaku sosial yang baik terhadap semua pemeluk agama tapi ketika ada berhala di sekitar Ka’bah beliau hancurkan,(coba maksudnya apa),intinya beliau tak ingin kebenaran jadi berwajah rancu,semu,artinya semua nabi dan Rasul tentu ingin kebenaran menjadi jelas dan terang,karena mereka ingin umatnya selamat dunia akhirat.
    Yang dikhawatirkan oleh seluruh orang yang beriman diseluruh dunia adalah wajah kebenaran Ilahi yang diperjuangkan mati matian oleh para nabi dan rasul menjadi berwarna abu-abu,kelabu karena faham pluralisme yang makin berkembang mendunia.sebab itu prinsip ’pluralisme’ harus di kaji dari berbagai sisi secara ilmiah artinya jangan ada yang membela secara membabi buta (dengan mengesampingkan logika), terangi fikiran dengan tuntunan kitab suci yang akan menuntun logika akal sehat dalam berfikir (cara berfikir logika = mekanisme cara berfikir yang tertata-teratur-konstruktif/tidak spekulatif,tidak bebas lepas tanpa aturan/karena inilah karakter cara berfikir akal).sebab manusia diberi akal oleh Tuhan tentu untuk digunakan/pada jalan yang benar.
    Bila kita mengacu pada pandangan logika akal yang Tuhan berikan pada manusia sebagai alat berfikir yang sistematis maka logika akal walau bagaimanapun akan mengatakan bahwa Tuhan pengatur alam semesta itu mesti satu sebab bila lebih maka analogikan dengan kerajaan dengan dua raja atau pengemudi mobil dengan dua sopir maka bayangkan kekacauan yang akan terjadi.jadi konsep kebenaran mutlak adalah konsep kebenaran yang berasal dari Tuhan yang satu itu.sebab itu penghormatan terhadap umat lain bukan berarti harus antipati atau mengorbankan konsep kebenaran mutlak dalam agama sendiri.
    Jadi boleh saja orang orang merumuskan faham ‘pluralisme’ atau berupaya mati matian mempertahankannya mati matian tapi mesti diingat bahwa manusia diberi Tuhan akal dan boleh hadapkan faham pluralisme dengan logika akal maka dalam konsep pluralisme akan banyak ditemukan hal hal yang bertentangan dengan logika akal.kita bisa analisis ketidak logisan faham pluralisme (pengertiannya disini adalah : faham yang memandang semua agama sebagai ‘sama benar’ atau karena agama dianggap banyak dan tiap agama menyatakan diri sebagai kebenaran maka ujungnya menganggap kebenaran agama sebagai bersifat relative)

    1.logika akan mengatakan bahwa keteraturan mustahil datang dari kebetulan sebab kebetulan mustahil melahirkan keteraturan dan keserba teraturan itu hanya mungkin berasal dari desain Tuhan,dan Tuhan itu harus satu mustahil dua atau lebih sebagaimana negara mustahil bisa tertib bila dikepalai oleh dua kepala pemerintahan pusat.
    2.Bila beranggapan semua agama sebagai ‘benar’ maka itu sama dengan mengatakan bahwa Tuhan itu banyak atau Tuhan ada dan dewa dewa juga ada,dan ini adalah suatu yang mustahil bagi logika akal.
    3.Bila Tuhan itu satu konsekuensinya kebenaran dan agama yang benar itu sebenarnya adalah satu,yaitu kebenaran yang berasal dari konsep Tuhan yang satu itu dan agama yang konsepnya bersandar pada kebenaran yang berasal dari konsep Tuhan yang satu itu.jadi bila mengacu kepada argument ini maka klaim kebenaran mutlak dari agama Ilahi itu adalah hal yang rasional (masuk di logika akal sehat).
    Sebab itu kaji klaim kebenaran mutlak itu oleh cara berfikir logika akal yang tertata jangan direspon oleh perasaan subyektif,konsep kebenaran mutlak itu ada karena ada Tuhan yang menciptakan realitas dan mengkonsep hukum kehidupan yang bersifat mutlak (sunnatullah) sebagai konstruksi dari realitas kehidupan,sebagai contoh : tiap yang lahir mesti akan mati,tiap yang muda mesti akan menjadi tua.dlsb.(jadi kemutlakan itu ada sumbernya-serta bisa ditelusuri darimana asal muasalnya).
    Jadi jangan meng konsep semua agama sebagai sama ‘benar’ atau karena agama banyak maka ‘kebenaran agama dianggap menjadi relative’ sebab bila begitu maka akal berarti tidak bekerja.tetapi yang bijaksana adalah (tanpa menunjuk kepada agama tertentu) biarkan akal manusia mencari mana yang paling baik dan paling benar karena itulah tugas akal.karena Tuhan memberi ujian bagi manusia dengan berbagai realitas yang banyak-beragam dan berwarna warni bukan untuk agar manusia menjadi pluralis atau berpandangan relativistik (dalam melihat dan memahami konsep kebenaran) tapi agar akal bekerja keras untuk menemukan mana yang paling baik dan paling benar.sebab cara berfikir akal itu sistematis dan selalu bermuara pada prinsip dualisme antara : benar atau salah,baik atau buruk (coba saja uji cara berfikir sistematik akal anda mulai pada hal hal yang mudah terlebih dahulu dan meningkat pada hal hal yang lebih rumit-kompleks)’.(ingat akal itu diuji – diuji dan diuji oleh Tuhan,bahkan oleh problem yang teramat kompleks-rumit)
    Dan ingat cara berfikir akal yang sistematis – tertata sebagaimana yang dituntut oleh kitab suci itu saat ini banyak dirusak oleh virus isme isme tertentu yang berasal dari cara berfikir spekulatif atau cara berfikir yang tidak sistematis-tidak konstruktif atau pemikiran bebas yang tidak berpijak pada asas berfikir sistematis. sehingga manusia banyak yang tidak sadar bahwa cara berfikir akal nya sudah macet,analoginya sama dengan program komputer yang rusak oleh virus.

Silahkan Komentar dan Berbagi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s