ULAMA PESANAN

Sejatinya memang, sebelum mengambil kesimpulan sebuah hukum syar’i. Seorang mujtahid, entah itu ia mujtahid mutlak atau juga mujtahid madzhabi dan sejenisnya, yg pertama-tama dan yang memang harus dilakukan ialah mengumpulkan dalil sebanyak-banyaknya yang ia ketahui dan sampai ketelinga-nya.

Setelah dipaparkan berbagai macam dalil, baik itu dari al-Quran dan juga sunnah/hadits Nabi saw, serta ditambahkan beberapa fatwa dari ulama terdahulu, barulah ia memulai proses pemindaian (baca: istinbath).

Atau dalam masalah kontemporer yang memerlukan suatu keahlian dalam disiplin ilmu tertentu, tinjauan dan penelitia mereka yang ahli dan pakar dibidangnya tersebut haruslah diikut sertakan. seperti kedokteran, astronomi dan sebagainya.

 

Setelah itu mulailah seorang mujtahid melakukan istimbath hukum suatui masalah berdasarkan dalil-dalil yang ada serta tinjauan para ahli tersebut. Dan yang pasti keputusan hukum tersebut haruslah berjalan selaras degan Maqoshid Syariah (tujuan syariah).

Jadi proses sesungguhnya yaa seperti itu. Dalil, klarifikasi dalil, istidlal, istimbath dan keluarlah sebuah produk ijtihad yang dinamakan dengan hukum atau fatwa. Jadi hukumnya itu datang belakangan setelah proses yang tidak sebentar.

Tapi kenyataan lapangan sekarang ini berbeda. Ulama sekarang ini justru malah sebaliknya, beliau-beliau malah menempatkan sebuah hukum yang merupakan hasil itu di awal perkara. Hukumnya seperti “ini”. Kemudian setelah itu baru lah beliau mecari dalil untuk membenarkan hukum tersebut.

Yang terjadi bukanlah proses mencari kebenaran suatu hukum perkara, tapi justru malah mencari pembenaran atas hukum yang telah di-“sepakati” oleh pihak seorang ‘Alim tersebut dan juga pihak “pemesan” hukum. Na’udzu billah.

Dalil dan hukum yang dihasilkan terlihat jelas ketidak sinkronan-nya. Tidak jelas hubungan, pun istidlalnya rusak! Sama sekali ngga nyambung. Tapi ya disambung-sambungin aja. Kalau perlu (dan memang ini yang dilakukan) melakuka pelintiran tafsir dan pelintiran ayat serta kandungannya.

Yang parahnya lagi, mereka membuat tameng dengan mengatakan bahwa hukum/fatwa yang dikatakannya telah dikatakan sebelumnya oleh salah seorang Ulama terdahulu demi menutupi kebohongannya tersebut. Padahal sama sekali ulama tersebut tidak pernah berbicara itu.

Dan yang membuat jengkel lagi, setelah dicek ternyata ulama “bohongan” ini sam sekali tidak punya riwayat pendidikan syariah. Hanya karena namanya sudah terlanjur “beken” dan popular saja, beberapa pihak memanfaatkan nya seperti itu. Dan labih heran lagi, kok banyak yang ngikutin? Hihi

Memang tidak semua Ulama seperti ini. Tapi tidak juga kita bisa menutup mata bahwa ada Ulama “karbitan” yang model kaya gini. Menyatakan suatu hukum sesuai pesanan. Siapa yang memesan bisa dibuatkan fatwa-nya. Tentu dengan tarif yang tentu saja dengan negosiasi tinggi.

Kita juga kan telah melihat itu memang benar terjadi. Masalah pilkada misalya yang rame. Bukan hanya pilkada saja, tapi semua jenis pemilu, entah itu legislatif ataupun eksekutif.

Entah kenapa setiap ada pilkada di daerah manapun itu, pasti saja dibumbui oleh fatwa-fatwa ulama pesanan. Dan juga yang makin menggelikan malah ada fatwa hasil alam mimpi. Yaitu seorang yang dikatakan sebagai ulama bermimpi bertemu dengan ulama fulan bin fulan, menurut pengakuan-nya, kemudian mengisyaratkan untuk kita semua memilih pak ———@@@——– dalam pilkada nanti. Halah….. Masih ada kok yang gini ya????

Itulah yag dinamakan ulama su’. Ulama pesanan. Semua sudah menjadi bisnin kepentingan. Wallahul-musta’an

Akhirnya yang terjadi hanya memperburuk dan makin memper-parah citra ulama dan islam itu sendiri. “Ulama kok bisa dipesen”

Jadi benar apa yag dikatakan oleh guru saya: “khoirul-Umaro’ Aqrobuhum Ilal-Ulama’. Wa Syarrul-Ulama’ Aqrobuhum Ilal-Umaro’ ” (sebaik-baik pemimpin ialah ia yang dekat dengan para Ulama. Dan seburuk-buruk Ulama ialah ia yang dekat dengan para penguasa)

Semoga Allah swt menjaga kita dari tangan-tangan pemesan keburukan.

Wallahu A’lam

www.rumahfiqih.com

Iklan

1 Comment

Silahkan Komentar dan Berbagi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s