KITAB SUCI MBAH YUDAS

Agama agama di dunia kebanyakan memiliki Kitab Suci, Yahudi, Nasrani, Islam dan lain sebagainya. Kitab sebagai kumpulan ajaran dan pendidikan sekaligus sebagai petunjuk bagi manusia dari Allah SWT, oleh karenanya ia suci adanya. Semua petunjuk, perintah dan larangan harus di sampaikan kepada manusia, tidak boleh menambahkan mengurangi ataupun menyembunyikan, harus di biarkan apaadanya. Interpretasi temporal manusia tidak boleh mempengaruhi tentang pemuatan sebuah firman harus di cantumkan atau di keluarkan dari isi kitab, sebab dengan segala keterbatasan manusia akan sangat mungkin pemikiranya tentang sebuah Firman hanya sesuai dengan situasi dan kondisi saat itu, tetapi untuk masa yang lain dalam jangka panjang. Dan kita tidak ada yang mengetahui kapan Firman itu akan bisa di buktikan sesuai dengan ilmu pengetahuan ataupun akan terjadi sebelum manusia mampu membuktikan.

 

Kedudukan antara Allah SWT, Kitab Suci dan Manusia sudah jelas sekali. Dia sebagai Pencipta dan manusia sebagai makhluk yang diciptakan, sedangkan Kitab Suci adalah Petunjuk yang di berikan oleh Allah SWT kepada manusia. Manusia dan kitab suci adalah milik Allah SWT. Dan manusia walaupun sebagai makhluk dinamis, memiliki keinginan, kemauan, hasrat dan pikiran tidak memiliki hak untuk merubah sedikitpun isi Kitab Suci, karena ia adalah berasal dari Allah SWT bukan dari manusia. Untuk Karya Allah SWT biarkan Dia yang memperlakukan sesuai dengan rencana-Nya. Manusia tidak memiliki hak untuk merubahnya. Manusia memiliki hak untuk merubah karyanya sendiri, semudah ia menghapuskan di layar monitor komputer.

 

Menarik untuk di perhatikan, tulisan berjudul “Mengapa Injil Yudas Tak Termasuk Alkitab”? Oleh bapak Agustinus Gianto, seorang Prof. Filologi Semit dan Linguistik pada Pontifical Biblical Institue, Roma, Tempo 30 April 2006.

 Dalam salah satu alinea beliau menyebutkan “Sejak awal naskah itu itu tidak dipakai oleh kebanyakan. Bahkan para pendukung naskah itu memaksudkanya sebagai tulisan yang berisi pengetahuan khusus yang tidak di peruntukan bagi semua orang?” Jika Kitab Yudas ini memang berisi kebenaran, mengapa harus di sembunyikan? Bukankah kita harus membiarkan sebuah kitab berbicara dengan bahasanya sendiri dan menyapa sebuah kelompok yang dimaksudkan oleh kitab itu? Apabila manusia memiliki teori esoteric sehingga berksimpulan bahwa Kitab Yudas ini hanya di peruntukan untuk orang-orang pilihan, lantas apa hak seorang anak manusia merahasiakan isi kitab ini dari manusia lainya yang mungkin di maksud oleh Kitab itu, sementara yang lainya belum mengetahui atau sanggup memahaminya? Kalau Kitab Yudas ini memiliki kedudukan khusus, tentu harus dinyatakan dengan jelas kriteria kekhususan itu. Untuk sebuah Kitab harus siap dibaca, diuji kebenaran, keakuratan, ketahanan terhadap pembuktian sesuai dengan hujjah Ilmiah dan keimanan oleh siapa saja. Sebuah kitab mungkin belum bisa di pahami oleh seorang “pemuda”, tetapi ia harus bisa dan boleh di baca siapapun juga, sebab kitapun belum mengetahui kapan dan siapa orang pilihan itu ditemukan atau “menemukan” sendiri kitab itu.

 

Pemahaman umum bagi kalangan Kristiani, Naskah Yudas ini di golongkan sebagai tulisan Apokrif, artinya ? dirahasiakan ? bagi kalangan sendiri. Isinya biasanya kurang mendalam dan hanya berlaku bagi kelompok kecil itu sendiri dan bersifat individualis. Lawanya adalah kitab Kanon. Kanon berasaldari kata Yunani ? kanon ? atau dari kata Ibrani “Kaneh” yang berarti buluh dan tongkat, sebagai suatu kiasan yang bermakna patokan atau ukuran. Dalam bahasa Teologi sebagai yang di “ilhamkan.” Yudas, oleh salah satu kelompok disebut sebagai orang yang paling berdosa dan bertanggung jawab atas tertangkapnya Nabi Isa atau Jesus oleh tentara kerajaan. Tetapi oleh kelompok yang meyakini kebenaran kitab Yudas, justru dialah yang berjasa. Yudas dianggap telah memiliki pengetahuan khusus atau Gnosis yang tidak dimiliki oleh murid lainya, pesan yang disampaikan oleh sang “Guru” di pahami dengan baik, sehingga untuk mewujudkan ajaran bahwa Jesus harus bisa bangkit dan menebus dosa manusia Dia harus mati di tiang kayu salib, maka Yudas harus ? Menjual ? Jesus kepada kerajaan.

 

Jika Kitab Kanon adalah berdasarkan “Ilham”, maka Kitab Yudas adalah melebihi “Ilham” dari murid lainya karena ia adalah sebagai Gnosis. Seharusnya Kitab Yudas menempati kedudukan tertinggi dari empat injil perjanjian Baru, seperti ungkapan Prof Gianto, bahwa injil Markus untuk pemula, Injil Matius dan Lukas untuk yang mulai masuk, sedangkan Injil Yohanes adalah untuk yang sudah matang kerohanianya. Injil Yohanes yang di peruntukan orang-orang sudah matang kerohanianya kita bisa merujuk kepada penjelasan Bapa Gereja Santo Agustinus dalam bukunya The Confession of St. Augustine dibawah sub judul “Kitab Suci dan Filsafat penyembah Berhala” menyatakan, “Book of the Platonis that had been translated ou of Greek into Latin. In then I read, not indeed in these wordbut much the sme thought, enforced by many varied argumens that : In the beginning was the word, and the word was with God and the word was God. All things were made by him, and without him nothing was made.”

 

Terjemahanya kurang lebih, “Buku Filsafat platonis yang telah di terjemahkan dari bahasa Yunani ke bahsa Latin. Didalamnya saya baca, walaupun tidak sama persis tetapi jalan pikiranya sama, didukung dengan berbagai argument bahwa, pada mulanya adalah Firman, dan Firman itu bersama Tuhan dan Firman itu adalah (dari) Tuhan. Segala sesuatu di jadikan oleh dia (Firman) dan tanpa dia (Firman) tidak ada yang di jadikan.”

 

Bandingkan dengan Kitab Yudas yang di peruntukan orang-orang dengan pengetahuan khusus.

 

Kitab Yudas boleh tidak diakui oleh manusia, ia tidak membutuhkan pengakuan manusia, ia adalah tetap sebuah kitab yang bisa dimiliki oleh orang dengan pengetahuan khusus. Sekecil apapun atau bahkan tidak bernilai sama sekali (mungkin untuk saat ini) tetapi ia adalah sebuah kitab, tidak boleh dikurangi, ditambahkan, dipisahkan atau dibuang sama sekali. Jika semua itu di lakukan oleh manusia, maka tidak salah kita membuat kesimpulan bahwa Injil itu sudah di Intervensi manusia dan tidak asli dari Tuhan adanya.

 

Jadi mengapa tidak berpikir kepada Al Qur’an, Kitab yang terjaga, tidak dikurangi,tidak ditambah dan tidak pula disembunyikan. Ia boleh dibaca dari orang awam sampai kepada golongan Gnosis. Sebuah Kitab yang siap diuji oleh siapapun, pasti benar dan abadi. Sebuah petunjuk untuk mengetahui kebenaran dan kesalahan jalan hidup manusia. Selamat membaca dan merenungkan dan ambil sikap!

 

Iklan

1 Comment

Silahkan Komentar dan Berbagi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s