ADIL TAK SELALU SAMA RATA

 

Pengertian feminisme seperti yang tercantum dalam Kamus Oxford adalah “belief in the principle that women should have the same rights as men(keyakinan atas prinsip yang menyatakan bahwa perempuan harus memiliki hak yang sama dengan laki-laki).

Gelombang Pertama

Gelombang pertama feminisme terjadi sejak abad 19 hingga awal abad 20, terutama di Eropa dan di Angloshphere. Paham ini memperjuangkan hak-hak wanita dalam pendidikan, pekerjaan, politik, dan perbudakan wanita. Pada saat itu wanita tidak memiliki tempat dalam status sosial. Gencarnya kampanye dari penggiat paham ini menjadikan negara Amerika Serikat memberikan wanita hak untuk memilih.

 

Gelombang Kedua

Pada tahun 1960-an terjadi gelombang kedua feminisme. Pada masa ini suara politik wanita lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Pada tahun ini pula mulai diperkenalkan pil kontrasepsi, akibatnya semakin sedikit laki-laki yang mempunyai keturunan, karena adanya pengalihan kontrol reproduksi dari laki-laki kepada wanita.

Dengan bertambahnya kebebasan wanita dalam menentukan sikap, maka terjadi kenaikan yang signifikan terhadap jumlah wanita yang aktif berkarir, baik dalam dunia pendidikan, ekonomi, maupun politik. Selain itu, bertambah pula angka perceraian, aborsi, dan keharusan terhadap laki-laki untuk tunduk terhadap wanita.

Gelombang Ketiga

Gelombang ketiga feminisme muncul pada tahun 1980-an, gerakan ini muncul sebagai usaha perbaikan dari gelombang pertama dan kedua. Gerakan pada gelombang ketiga ini ingin membantah atas definisi feminitas yang dianggap mereka terlalu mengunggulkan wanita kulit putih. Gerakan pada masa ini berfokus pada penyatuan kaum muda.

Paham feminisme yang berkembang pada era modern ini adalah bahwa wanita memiliki kebebasan individual secara penuh (feminisme liberal), terdapat ideologi perjuangan separatisme wanita untuk kesetaraan gender dan wanita tanpa air mata (feminisme radikal), gender tidak bermakna identitas atau struktur sosial (feminisme post modern), menganggap bahwa negara dan pria adalah sumber kehancuran (feminisme anarkis), dan paham yang memperjuangkan untuk menghapuskan sistem kepemilikan yang terdapat dalam lembaga perkawinan (feminisme sosialis).

Islam Telah Meninggikan Harkat Wanita

Menarik untuk dikaji bahwa ternyata gerakan feminisme tidak pernah lahir di tengah peradaban Islam. Hampir semua gerakan dan paham feminisme ini lahir di Barat.

Pertanyaanya, mengapa peradaban Islam tidak pernah melahirkan gerakan feminisme?

Jawabannya sederhana, karena ada asap pasti karena ada api. Kalau tidak ada api, tidak mungkin ada asap.

Sejak 14 abad yang lalu Islam telah mengangkat derajat wanita, dan selalu memberikan hak para wanita dengan adil, maka tidak pernah ada wanita di tengah peradaban Islam yang merasa perlu bikin gara-gara untuk mencetuskan feminisme. Oleh karena itu gerakan feminisme tidak pernah lahir dari peradaban Islam.

Kalau pun ada sebagian dari umat Islam yang agak latah mengobarkan paham feminisme, sebenarnya lebih merupakan sikap latah dan ikut-ikutan yang tidak ada asal muasalnya, kecuali hanya terlalu banyak mengkonsumsi tsaqafah Barat.

Keadilan Tidak Harus Sama Rata

Berkaitan dengan keadilan Allah terdapat ayat Al-Quran yang menjelaskannya sebagai berikut:

  شَهِدَ اللهُ أَنَّهُ لاَإِلَهَ إِلاَّ هُوَ وَالْمَلآئِكَةُ قَائِماً بِالْقِسْطِ لاَإِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْم

Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan (Yang berhak disembah) melainkan Dia yang menegakkan keadilan. Para Malaikan dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan (Yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” [QS. Ali ‘Imran: 18]

Adil sebagaimana kita ketahui berarti memberikan hak yang sesuai dengan keadaan, kebutuhan dan tanggungjawab terhadap kewajiban. Adapun pengertian adil menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah tidak berat sebelah, tidak memihak, sepatutnya.

Allah menciptakan laki-laki dan wanita untuk saling melengkapi, tidak ada yang dilebihkan antara satu dengan yang lain. Dan satu-satunya yang menjadikan laki-laki dan wanita berbeda kedudukannya disisi Allah adalah ketaqwaan, sebagaimana firman Allah:

“Wahai manusia sungguh Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti”. [QS. Al-Hujurat: 13]

Terdapat perbedaan fitrah dan fisik antara wanita dan laki-laki, namun perbedaan tersebut bukanlah suatu hal yang perlu dicari kekurangannya.

Secara fisik, laki-laki mempunyai tenaga yang lebih besar daripada wanita karena laki-laki diberikan tanggungjawab dalam mencari nafkah untuk kelurga, melindungi dan memberikan rasa aman untuk anak serta isterinya.

Dan semua itu merupakan tanggungjawab yang besar. Ini adalah salah satu alasan mengapa Allah dalam ayat pembagian harta waris memberikan bagian untuk laki-laki dua kali bagian tiap-tiap perempuan, sebagaimana firman Allah swt:

Allah mewasiatkan bagimu tentang (pembagian pusaka) untuk anak-anakmu, yaitu bagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan.” [QS. An-Nisa: 11].

Adapun wanita, Allah telah menganugerahkan padanya perasaan yang lembut, sehingga Allah menjadikannya seorang ibu yang mempunyai tanggungjawab dalam mendidik dan memberikan kasih sayang untuk anak-anaknya.

Tidaklah mudah tugas seorang ibu, karena ia harus bersabar ketika mengandung anaknya selama 9 bulan, setelah itu ia harus berlapang hati untuk terjaga ditengah malam.

Dan begitu selanjutnya, seorang wanita menjalani perannya sebagai wanita mulia yang Allah muliakan, sebagaimana hadits Nabi saw:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ: أُمُّكَ، قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: ثُمَّ أُمُّكَ، قَالَ: ثُمَّ مَن؟ْ قَالَ: ثُمَّ أُمُّكَ، قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ ثُمَّ أَبُوك

Dari Abu Hurairah r.a. berkata: Ada seseorang yang datang menghadap Rasulullah dan bertanya, “Ya Rasulallah, siapakah orang yang lebih berhak dengan kebaikanku?” Jawab Rasulullah, “Ibumu.” Ia bertanya lagi, “Lalu siapa?” Jawabnya, “Ibumu.” Ia bertanya lagi, “Lalu siapa?” Jawabnya, “Ibumu.” Ia bertanya lagi, “Lalu siapa?” Jawabnya, “Ayahmu.” (Bukhari, Muslim).

Dengan demikian, justru malah akan menjadi sebuah ketidakadilan jika menyamakan hak dan kewajiban wanita dengan laki-laki, karena akan memicu ketidakseimbangan hidup.

Cukup saling menjaga hak masing-masing, dan menunaikan kewajiban masing-masing, maka akan terciptalah keseimbangan gender.

 

BY Iis Khoirunisa

Iklan

Silahkan Komentar dan Berbagi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s