“ISLAM PERDANA” AYAU ISLAM ALA ORIENTALIS


imageimageDalam sebuah buku, aktivis liberal menggunakan istilah “Islam Pedana”. Padahal, yang ada padanya adalah “Islam ala orientalis”

Kalangan penganut liberal dalam beragama dikenal pintar ‘bersilat kata’ dan ‘mengutak-atik’ istilah. Baru-baru ini, dalam sebuah buku “Islam Benar versus Islam Salah” tulisan aktivis Jaringan Islam Liberal (JIL), Luthfi Assaukanie menulis satu refleksi dengan judul ‘Islam Perdana’. Apa yang dia maksud dengan “Islam Perdana”?

“Selama ini, kajian-kajian Islam awal, saya lebih suka menyebutnya sebagai “Islam Perdana”, banyak dilakukan oleh para orientalis.

Sejak awal abad ke-19, para orientalis berusaha menyuguhkan asal-usul agama ini dari berbagai aspeknya, dari sejarah Muhammad (Arthur Jeffrey), sejarah Al-Quran (Theodor Noldeke), sejarah Hadis (Nabia Abott), dan sejarah Fikih (Joseph Schacht). Karya yang agak komprehensif tentang Islam perdana adalah buku Montgomery Watt berjudul The Formative Period of Islamic Thought.” (Luthfi, 2007: 41).

Luthfi seakan ‘menyesal’ karena banyak kajian tentang Islam perdana yang dilakukan kaum Muslim umumnya bersifat apologetis. Menurutnya, jika ada persoalan serius yang dikhawatirkan bakal mengganggu ketentraman beragama, kajian itu akan dihentikan atau ditafsirkan sedemikian rupa agar sesuai dengan keyakinan ortodoksi Islam. Dari kacamata ilmiah, pendekatan seperti ini tentu saja tak ada gunanya sama sekali.

Baca lebih lanjut

Iklan

TEOLOGI APOLOGETIK MEMBACA KITAB SUCI

Oleh Qosim Nursheha Dzulhadi *)
imageDalam situs pribadinya, Ulil Abshar-Abdallah menulis satu artikel tentang cara membaca Kitab “Suci” –baik Al-Qur’an maupun yang lainnya. ( Memahami Kitab-Kitab “Suci” secara non-apologetik  ). Dalam artikelnya itu, Ulil menolak pembaca Kitab “Suci” secara apologetic. Karenanya dia mengusulkan bagaimana membaca kitab “suci” itu secara non-apologetik. Dia merasa terganggu oleh kalangan umat Islam yang banyak menunjukan kontradiksi dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Karena menurutnya, itu hanya usaha untuk menunjukkan kehebatan Al-Qur’an.

Artikel ini, hemat penulis, perlu dicermati karena menyangkut otentisitas Al-Qur’an. Selain itu, ada semacam usaha Ulil untuk “menyamakan” antara Al-Qur’an dengan kitab-kita agama lain –khususnya Bible. Di sini akan penulis kutip beberapa pernyataan Ulil yang penting untuk dikritisi.

Di awal artikelnya, Ulil menulis: “

Baca lebih lanjut

KEBENARAN

oleh: Hamid Fahmi Zarkasy *

Untuk menguasai agama tidak perlu beragama, demikian kata kaum liberal. Itulah sebabnya mereka membuat “teologi-teologi” baru. “Untuk menjadi wasit tidak perlu menjadi pemain” itu logikanya

“Semua adalah relatif” (All is relative) merupakan slogan generasi zaman postmodern di Barat, kata Michael Fackerell, seorang missionaris asal Amerika. Ia bagaikan firman tanpa tuhan, dan sabda tanpa Nabi. Menyerupai undang-undang, tapi tanpa penguasa. Tepatnya dokrtin ideologis, tapi tanpa partai. Slogan itu memang enak didengar dan menjanjikan kenikmatan syahwat manusiawi. Baik buruk, salah benar, porno tidak porno, sopan tidak sopan, bahkan dosa tidak dosa adalah nisbi belaka. Artinya tergantung siapa yang menilainya.

Baca lebih lanjut

KONFENSI TAFSIR KAUM PLURALIS

imageWacana untuk menyusupkan kredo pluralisme agama ke dalam alam pandangan hidup (world view) umat Islam tidak pernah ditemukan dalam karya-karya ilmiah ulama Islam terkemuka Indonesia. Namun dalam dua dasawarsa terakhir, wacana yang dimulai oleh gagasan-gagasan pluralis alm. Cak Nur pada awal 90-an telah mengkristal setelah kelompok yang menamakan Jaringan Islam Liberal (muncul pada era reformasi), resmi menjadikan isu pluralisme agama sebagai sebagai salah satu agenda pentingnya.

Baca lebih lanjut

MISI PLURALISME DI BALIK NOVEL AYAT AYAT CINTA

Risalah Mujahidin Edisi 17 Shafar 1429 H (Feb-Maret 2008)
imagePesona Novel Ayat-ayat Cinta telah menjulangkan nama penulisnya, Habiburrahman el-Shirazy, ke posisi Tokoh Perubahan 2007 versi Republika. Seperti sastrawan dan budayawan Mesir Mahmud Abbas al-Aqqad, Thaha Husein dan lainnya, yang menjadi makelar zionis melalui gagasan multikultural dan multikeyakinan. Agen zionis, memang tidak pernah kehilangan cara untuk menemukan kaki tangan di bidang sastra dan budaya. Membaca novel Ayat-ayat Cinta menyisakan beragam kesan. Mungkinkah penulisnya dianggap figur yang tepat sebagai makelar zionisme melalui misi pluralisme agama?

Baca lebih lanjut

BUDAYA BERJILBAB DALAM KURUNGAN NEO-LIBERALISME

Tiupan angin neo-liberalisme berhembus sangat kencang seiring dengan gelombang globalisasi yang melanda dunia saat ini. Neoliberalisme juga sungguh menakutkan.

Paham ini terus bermetamorfosis dalam berbagai bentuk karena manusia ingin merasakan kebebasan dalam kehidupan mereka.

Akibat dari menguatnya paham neo-liberal tersebut, muncullah gerakan-gerakan pembebasan yang mengatasnamakan demokrasi, hak asasi manusia (HAM), emansipasi kaum perempuan, dan sebagainya. Budaya populer yang terus-menerus diembuskan oleh penganut paham neo-liberal juga berdampak pada perubahan perilaku sosial dan keagamaan di masyarakat.

Baca lebih lanjut

Jangan Terlalu Cepat Menuduh JIL Munafik

imageTidak setiap Muslim boleh dan berhak mengklaim seseorang atau suatu aliran sesat tanpa cukup bukti akurat, yang dibenarkan oleh Lembaga Ulama atau Lembaga Fatwa yang terpercaya.

Yang berhak menyatakan sesat tidaknya suatu aliran atau firqah yang mengaku Islam hanya Lembaga Ulama yang terdiri dari personil-personil Ulama yang benar-benar memahami Islam sertamengamalkannya. Di negeri Pancasila ini, bermacam-macam aliran yang mengaku Islam atau dengan embel-embel Islam, di antaranya Jaringan Islam Liberal (JIL). Ulama di Indonesia telah menyatakan faham mereka sesat. Dikatakan bahwa kesesatan mereka diilhami oleh guru besar kesesatan yaitu Iblis la’natullah ‘alaih. Karena itu JIL diplesetkan dengan “Jalan Iblis Laknat”.

Baca lebih lanjut