YESUS MENURUT IMAM AL- GHAZALI

Imam al-Ghazali adalah salah seorang ulama klasik yang berusaha keras mematahkan hujjah ketuhanan Yesus. Melalui bukunya yang berjudul al-Raddul Jamil li Ilahiyati `Isa, al-Ghazali membantah ketuhanan Yesus dengan mengutip teks-teks Bibel. Buku ini menarik untuk dikaji karena diterbitkan oleh UNESCO dalam bahasa Arab.

Imam al-Ghazali adalah ulama yang sangat terkenal di zamannya sampai zaman sekarang ini. Nama lengkapnya, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad At-Thusi Asy-Syafii (pengikut mazhab Syaf’i). AlGhazali lahir 450 H/1058 M dan wafat pada tahun 505H/1111M dalam usia 55 tahun.

Karyanya tidak kurang dari 200 buku, dan di antara karyanya yang sangat monumental adalah “Ihya `Ulumiddin” (Revival of Religious Sciences). Ia dikenal sebagai seorang filosof, ahli tasawwuf, ahli fikih, dan juga bisa dikatakan sebagai seorang Kristolog. Ini terbukti lewat karyanya al-Raddul Jamil, yang ditulisnya secara serius dan mendalam.

Dalam bukunya, Al-Ghazali memberikan kritik-kritik terhadap kepercayaan kaum Nasrani yang bertaklid kepada akidah pendahulunya, yang keliru. Kata al-Ghazali dalam mukaddimah bukunya: “Aku melihat pembahasan-pembahasan orang Nasrani tentang akidah mereka memiliki pondasi yang lemah. Orang Nasrani menganggap agama mereka adalah syariat yang tidak bisa di takwil” Imam al-Ghazali juga berpendapat bahwa orang Nasrani taklid kepada para filosof dalam soal keimanan. Misalnya dalam masalah al-ittihad, yaitu menyatunya zat Allah dengan zat Yesus.

Al-Ghazali membantah teori al-ittihad kaum Nasrani. Menurutnya, anggapan bahwa Isa AS mempunyai keterkaitan dengan Tuhan seperti keterkaitan jiwa dengan badan, kemudian dengan keterkaitan ini terjadi hakikat ketiga yang berbeda dengan dua hakikat tadi, adalah keliru. Menurutnya, bergabungnya dua zat dan dua sifat (isytirak), kemudian menjadi hakikat lain yang berbeda adalah hal yang mustahil yang tidak diterima akal.

Dalam pandangan al-Ghazali, teori alittihad ini justru membuktikan bahwa Yesus bukanlah Tuhan. Al-Ghazali menggunakan analogi mantik atau logika. Ia berkata, ketika Yesus disalib, bukankah yang disalib adalah Tuhan, apakah mungkin Tuhan disalib? Jadi, Yesus bukanlah Tuhan. Penjelasannya dapat dilihat pada surat an-Nisa ayat 157: “Dan tidaklah mereka membunuhnya (Isa AS) dan tidak juga mereka menyalibnya akan tetapi disamarkan kepada mereka”.

Selain al-ittihad, masalah al-hulul tak kalah pentingnya. Menurut Al-Ghazali, makna al-hulul, artinya zat Allah menempati setiap makhluk, sebenarnya dimaksudkan sebagai makna majaz atau metafora. Dan itu digunakan sebagai perumpamaan seperti kata “Bapa” dan “Anak”. Misalnya seperti dalam Injil Yohannes pasal 14 ayat 10: “Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku. Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diriKu sendiri tetapi Bapa yang diam di dalam Aku, Dia-lah yang melakukan pekerjaanNya.”

Dalam melakukan kajiannya, Imam alGhazali merujuk kepada Bibel kaum Nasrani. Dalam al-Raddul Jamil, al-Ghazali mencantumkan enam teks Bibel yang menurutnya menafikan ketuhanan Yesus, dan dikuatkan dengan teks-teks Bibel lainnya sebagai tafsiran teks-teks yang enam tadi.

Di antara teks yang dikritisi oleh alGhazali adalah Injil Yohannes pasal 10 ayat 30-36, “Aku dan Bapa adalah satu. Sekali lagi orang-orang Yahudi mengambil batu untuk melempari Yesus. Kata Yesus kepada mereka: “banyak pekerjaan baik yang berasal dari Bapa-ku yang kuperlihatkan kepadamu; pekerjaan manakah di antaranya yang menyebabkan kamu mau melempari aku? Jawab orang-orang Yahudi itu: “bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari engkau, melainkan karena engkau menghujat Allah dan karena engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan dirimu dengan Allah. Kata Yesus kepada mereka: “tidakkah ada tertulis dalam kitab Taurat kamu: Aku telah berfirman: kamu adalah Allah? Jikalau mereka, kepada siapa firman itu disampaikan, disebut Allah ­ sedangkan kitab suci tidak dapat dibatalkan, masihkah kamu berkata kepada dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutus-Nya ke dalam dunia.” (Teks dikutip dari Bibel terbitan Lembaga Al-kitab Indonesia; Jakarta 2008.)

Teks ini, menurut al-Ghazali, menerangkan masalah al-ittihad (menyatunya Allah dengan hamba-Nya). Orang Yahudi mengingkari perkataan Yesus “aku dan Bapa adalah satu”. Al-Ghazali berpendapat, perkataan Yesus, Isa AS “..aku dan Bapa adalah satu” adalah makna metafora.

Al Ghazali mengkiaskannya seperti yang terdapat dalam hadits Qudsi, dimana Allah berfirman: “Tidaklah mendekatkan kepadaKu orang-orang yang mendekatkan diri dengan yang lebih utama dari pada melakukan yang Aku fardhukan kepada mereka. Kemudian tidaklah seorang hamba terus mendekatkan diri kepadaKu dengan hal-hal yang sunnah sehingga Aku mencintainya. Apabila Aku telah mencintainya maka Aku adalah pendengaran yang ia mendengar dengannya, penglihatan yang ia melihat dengannya, lisannya yang ia berbicara dengannya dan tangannya yang ia memukul dengannnya.”

Menurut Al-Ghazali, adalah mustahil Sang Pencipta menempati indra-indra tersebut atau Allah adalah salah satu dari indra-indra tersebut. Akan tetapi seorang hamba ketika bersungguh-sungguh dalam taat kepada Allah, maka Allah akan memberikannya kemampuan dan pertolongan yang ia mampu dengan keduanya untuk berbicara dengan lisan-Nya, memukul dengan tangan-Nya, dan lain-lainnya. Makna metafora dalam teks Bibel dan hadis Qudsi itulah yang dimaksudkan bersatunya manusia dengan Tuhan, bukan arti harfiahnya.

Demikianlah, di abad ke-12 M, Imam al-Ghazali telah melalukan kajian yang serius tantang agama-agama selain Islam. Kajian ini tentu saja sesuatu yang jauh melampaui zamannya. Kritiknya terhadap konsep Ketuhanan Yesus jelas didasari pada keyakinannya sebagai Muslim, berdasarkan penjelasan Alquran.

Al-Ghazali bersifat seobjektif mungkin saat meneliti fakta tentang konsep kaum Kristen soal Ketuhanan Yesus. Tapi, pada saat yang sama, dia juga tidak melepaslan posisinya sebagai Muslim saat mengkaji agama-agama.

http://www.republika.co.id/berita/ensiklopedia-islam/islam-digest/10/05/21/116540-inilah-kajian-al-ghazali-tentang-konsep-ketuhanan-yesus

Iklan

5 Comments

  1. Salah sejahtera untuk semua nya..

    Boleh saya ikutan bergabung
    Nama saya Hendharto, dan saya ingin sekali bisa memberi komentar di situs ini.

    Satu yang ingin saya sampaikan

    Apa yang akan terjadi kalau saya bisa membuktikan bahwa Yesus bukan Tuhan, tetapi Yesus adalah Anak Allah.?

    Sebelum nya saya ingin penjelasan untuk Sura yg saya kutip di bawah ini.

    Allah sekali-kali tidak mempunyai anak (Allah secara fisik tidak mempunyai anak)…(“walad”, Sura 17:111, 25:2, 23:91)

    وَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُنْ لَهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ وَلِيٌّ مِنَ الذُّلِّ وَكَبِّرْهُ تَكْبِيرًا

    Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia (Sura 112:3-4).

    لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ

    وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

    Mohon penjelasannya apa yang di maksud dgn istilah anak dalam sura di atas itu..?

    Dan satu lagi apa maksud Muhamad ketika mengatakan kalimat dalam Sura di bawah ini.
    …jika benar Tuhan Yang Maha Pemurah mempunyai anak, maka akulah (Muhammad) orang yang mula-mula memuliakan (anak itu)! (Sura 43:81)

    قُلْ إِنْ كَانَ لِلرَّحْمَنِ وَلَدٌ فَأَنَا أَوَّلُ الْعَابِدِينَ

    Saya akan membuktikan kalau Yesus bukan Tuhan tetapi Yesus adalah Anak Allah.
    Kalau pembuktian saya benar bahwa Yesus bukan Allah tetapi Anak Allah, apakah anda akan memuliakan Yesus sebagai mana Muhammad yang adalah orang pertama yang akan memuliakan Yesus.

    Terimakasih

    salam,
    Hendharto

    • terima kasih atas kunjungan saudara..
      Sura 17:111, 25:2, 23:91) dan Sura 112:3-4 di sini sudah jelas kalau Allah tidak punya anak dan tidak di peranakkan,ayat ini adalah ayat yang muhkam dan mudah di fahami,bahkan anak kecil pun sudah bisa memahami nya bahwa dalam ayat tsb Allah menggambarkan DIA tidak punya anak dan tidak pula di peranakkan.

      jika benar Tuhan Yang Maha Pemurah mempunyai anak, maka akulah (Muhammad) orang yang mula-mula memuliakan (anak itu)! (Sura 43:81)

      Ayat ini juga sangat jelas bahwa sang nabi yaitu Rasul Muhammad SAW menerangkan kalau Allah tidak punya anak dan tidak di peranak kan,tidak ada kontradiksi antara ayat yang satu dgn ayat yang lain.

      MEMULIAKAN.
      Kami umat Islam secara defacto telah menerima Yesus dengan pengaruh Muhammad saja, dan saat ini di dunia terdapat tidak kurang dari 900.000.000 pengikut Muhammad yang mencintai, memuliakan dan menghormati utusan Tuhan yang besar ini –Yesus Kristus– tanpa perlu diyakinkan oleh umat Kristen melalui arti Injil dalam dialek bahasa mereka. TAPI INGAT BUKAN SEBAGAI ANAK ALLAH ATAU SEBAGAI TUHAN ATAU PERWUJUDAN DARI ALLAH,SANGAT2 TIDAK.

      Penulis atau biografer yang mana yang akan berbuat demikian, mempromosikan nama orang lain di dalam bukukaryanya daripada namanya sendiri? Tidak ada.

      Nama Yesus (Isa) disebutkan di dalam Alqur’an karin boleh bilang sebanyak 500% lebih banyak daripada jumlah disebutkannya nama Muhammad SAW. Sesuatu yang tidak terbayangkan. Kitab ini diturunkan kepadanya, namun namanya tetap tidak banyak masuk ke dalam kitab Al-Qur’an. Bahkan didalam kitab Al-Qur’an tersebut, ia malah banyak mempromosikan nama Yesus (Isa), sebanyak 500% lebih banyak dari penyebutan namanya sendiri, Muhammad SAW. Apakah yang demikian itu lumrah? Ini suatu bukti bahwa Al-Qur’an itu bukan karyanya (Muhammad SAW). Jika Al-Qur’qn itu karya tulis Muhammad, maka mestilah secara alami ia akan mempromosikan namanya sendiri.

      Selain itu buat umat Islam, tidak ada masalah bila nama nabi Muhammad SAW hanya disebut 4 kali saja di dalam Al-Quran. Sebab yang penting bukan penyebutannya namanya, melainkan kita semua tahu bahwa ke-114 surat dan 30 juz dalam Al-Quran memang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW.

      Jadi kalau keseluruhan Al-Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, buat apa lagi nama beliau harus selalu disebut-sebut. Dan yang penting, kemuliaan suatu makhluq tidak ditentukan dari berapa kali namanya disebutkan di dalam Al-Quran. Tahukah anda, berapa kali kata Syaithan disebutkan di dalam Al-Quran? Jumlahnya tidak kurang dari 62 kali. Apakah kita akan menghormati syaithan? Tentu saja tidak.

      Tahukah Anda berapa kali kata Iblis diulang-ulang di dalam Al-Quran? Jawabnya adalah 11 kali. Apakah kita akan menghormati iblis hanya karean namanya diulang 11 kali dalam Al-Quran? Tentu saja tidak.

      Di sisi lain, sebenarnya setiap kali ada ayat Al-Quran yang dimulai dengan kata Qul (katakanlah), itu merupakan dialaog Allah kepada beliau SAW untuk mengatakan sesuatu atau menyampaikan sesuatu. Dan kalau dihitung-hitung, jumlahnya mencapai 300 lebih.

      salam.

  2. YESUS ANAK ALLAH

    Istilah Anak Allah yang merupakan predikat dari Yesus bukan berarti bahwa Yesus dilahir oleh Allah secara biologis.
    KIta akan simat ayat2 Alkitab di bawah ini yang menunjukkan mengapa Yesus di sebut sebagai Anak Allah.

    Identitas Yesus sebagai Anak Allah di kabarkan oleh Malaikat menjelang kelahiran Yesus, Lukas 1:26-32, “Dalam bulan keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret, kepada seorang perawan,..: nama perawan itu Maria…Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan anak laki-laki..Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi..”

    Setan mengakui bahwa Yesus Anak Allah.
    Setan dengan pertanyaan yang licik dan menjebak berkata kepada Yesus, Lukas 4:3,4, ” Lalu berkatalah Iblis kepadaNya:” Jika Engkau Anak Allah, suruhlah batu ini menjadi roti.”
    Lukas 4: 41, setan2 berteriak : ” Engkau adalah Anak Allah”.
    Lukas 8:28, setan yang merasuki tubuh seorang laki2 berkata dengan suara keras :” Apa urusan-Mu dengan aku, hai Yesus Anak Allah Yang Mahatinggi.”
    Matius 27:54, kepala pasukan mengakui : “Sungguh Ia ini adalah Anak Allah”
    Bahkan Allah sendiri mengakui Yesus adalah Anaknya, sesaat setelah Yesus di baptis, Lukas 3:22, terdengar suara dari langit “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan.”
    Yohanes yang membaptis Yesus di Yohanes 1:33-34, mengatakan : “..tetapi Dia yang mengutus aku untuk membaptis dengan air, telah berfirman kepadaku: Jikalau engkau melihat Roh itu turun ke atas seseorang dan tinggal di atas-Nya, Dialah itu yang akan membaptis dengan Roh Kudus. Dan aku telah melihat-Nya dan memberi kesaksian: Ia Inilah Anak Allah.”

    Mengapa Yesus di sebut Anak Allah?

    Atas dasar apa para Malaikat, setan Rasul2 Yesus, kepala tentara dan bahkan Allah sendiri mamanggil Yesus dengan identitas Anak Allah.

    Di kisah 10:43, Rasul Petrus memberi kesaksian bahwa “Tentang Dialah ( Yesus ) semua nabi memberikan kesaksian”
    Di Roma 1:2-3, Rasul Paulus memberikan penjelasan’
    ” Injil itu telah di janjikan-Nya sebelumnya dengan perantaraan nabi-nabi-Nya dalam kitab-kitab suci, tentang Anak-Nya, yang menurut daging di peranakan dari keturunan Daud, dan menurut Roh kekudusan dinyatakan oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati, bahwa Ia adalah Anak Allah yang berkuasa, Yesus Kristus.”

    Ya, para nabi memberi kesaksian tentang Yesus ribuan tahun sebelum Yesus lahir.

    “Sebelum Abraham ada, Aku (Yesus) telah ada”
    Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya.” Kata para pemuka Yahudi kepada-Nya, “Sekarang kami tahu bahwa Engkau kerasukan setan. Sebab Abraham telah mati dan demikian juga nabi-nabi, namun Engkau berkata: Siapa saja yang menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya. Apakah Engkau lebih besar daripada bapak kita Abraham, yang telah mati! Nabi-nabi pun telah mati; dengan siapa Engkau samakan diri-Mu?” Jawab Yesus, “Jikalau Aku memuliakan diri-Ku sendiri, maka kemuliaan-Ku itu sedikit pun tidak ada artinya. Bapa-Kulah yang memuliakan Aku, tentang siapa kamu berkata: Dia adalah Allah kami, padahal kamu tidak mengenal Dia, tetapi Aku mengenal Dia. Dan jika Aku berkata: Aku tidak mengenal Dia, maka Aku adalah pendusta, sama seperti kamu, tetapi Aku mengenal Dia dan aku menuruti firman-Nya. Abraham bapakmu bersukacita bahwa ia akan melihat hari-Ku dan ia telah melihatnya dan ia bersukacita.” Lalu kata para pemuka Yahudi itu kepada-Nya, “Umur-Mu belum lima puluh tahun dan Engkau telah melihat Abraham?” Kata Yesus kepada mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, sebelum Abraham ada, Aku telah ada.” Lalu mereka mengambil batu untuk melem;pari Dia; tetapi Yesus menghilang dan meninggalkan Bait Allah. (Yoh 8:51-59).

    Sepanjang pembicaraan-Nya dengan para pemuka Yahudi, Yesus telah memberi indikasi tentang identitas-Nya. Hal ini membuat marah para lawan-Nya dalam proses komunikasi tersebut. Sampai titik ini, mereka telah mencap-Nya sebagai seorang pembohong, menuduh diri-Nya sebagai seorang Samaria dan kerasukan setan (lihat Yoh 8:48). Jadi, tidak mengherankanlah kalau mereka kemudian bertanya kepada-Nya: “Dengan siapa Engkau samakan diri-Mu?” (Yoh 8:53). Sungguh sukar bagi mereka untuk menerima apa yang dikatakan Yesus, bahwa diri-Nya lebih besar daripada Bapak Abraham (lihat Yoh 8:52-57). Akan tetapi, situasinya menjadi semakin “parah” ketika Yesus berkata: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, sebelum Abraham ada, Aku telah ada” (Yoh 8:58). Karena pernyataan-Nya itu mereka mengambil batu untuk melempari Dia (lihat Yoh 8:59).

    Yoh 17:24, Yesus berdoa :
    Ya Bapa, Aku mau supaya, di manapun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku, mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku, agar mereka memandang kemuliaan-Ku yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan.
    Dihadirat Allah, Yesus sudah ada sebelum dunia di jadikan.

    Lalu.. siapa Yesus sebenarnya ? kenapa permulaannya ada sejak jaman dahulu kala, bahkan Yesus ada bersama Allah sebelum dunia dijadikan.

    Yesus adalah mahluk Roh yang pertama atau Malaikat pertama yang di jadikan
    oleh Alllah.

    Amsal 8:22-31, menjelaskan bahwa Yesus adalah ciptaan Allah yang pertama.
    8:22 TUHAN telah menciptakan aku sebagai permulaan pekerjaan-Nya, sebagai perbuatan-Nya yang pertama-tama dahulu kala.
    8:23 Sudah pada zaman purbakala aku dibentuk, pada mula pertama, sebelum bumi ada.
    8:24 Sebelum air samudera raya ada, aku telah lahir, sebelum ada sumber-sumber yang sarat dengan air.
    8:25 Sebelum gunung-gunung tertanam dan lebih dahulu dari pada bukit-bukit aku telah lahir;
    8:26 sebelum Ia membuat bumi dengan padang-padangnya atau debu dataran yang pertama.
    8:27 Ketika Ia mempersiapkan langit, aku di sana, ketika Ia menggaris kaki langit pada permukaan air samudera raya,
    8:28 ketika Ia menetapkan awan-awan di atas, dan mata air samudera raya meluap dengan deras,
    8:29 ketika Ia menentukan batas kepada laut, supaya air jangan melanggar titah-Nya, dan ketika Ia menetapkan dasar-dasar bumi,
    8:30 aku ada serta-Nya sebagai anak kesayangan, setiap hari aku menjadi kesenangan-Nya, dan senantiasa bermain-main di hadapan-Nya;
    8:31 aku bermain-main di atas muka bumi-Nya dan anak-anak manusia menjadi kesenanganku.

    Kesaksian Rasul Paulus juga menegaskan bahwa Yesus adalah permulaan ciptaan Allah, dengan kata lain Yesus adalah Malaikat pertama yang di ciptakan oleh Allah.
    Kolose 1:15-20
    Keutamaan Kristus
    1:15 Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan
    1:16 karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu , yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.
    1:17 Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia.
    1:18 Ialah kepala tubuh, yaitu jemaat. Ialah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati , sehingga Ia yang lebih utama dalam segala sesuatu.
    1:19 Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia,
    1:20 dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya , baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus.

    Bahkan Yesus sesudah dibangkitkan dan berada di Sorga, menegaskan melalui sebuah wahyu yang di sampaikan kepada Yohanes, bahwa Dia adalah permulaan ciptaan Allah.
    Wahyu 1:1-3
    1:1 Inilah wahyu Yesus Kristus , yang dikaruniakan Allah kepada-Nya, supaya ditunjukkan-Nya kepada hamba-hamba-Nya apa yang harus segera terjadi. Dan oleh malaikat-Nya yang diutus-Nya, Ia telah menyatakannya kepada hamba-Nya Yohanes.
    1:2 Yohanes telah bersaksi tentang firman Allah dan tentang kesaksian yang diberikan oleh Yesus Kristus, yaitu segala sesuatu yang telah dilihatnya.
    1:3 Berbahagialah ia yang membacakan dan mereka yang mendengarkan kata-kata nubuat ini, dan yang menuruti apa yang ada tertulis di dalamnya, sebab waktunya sudah dekat.
    dan di pasal 3:14, Yesus dengan tegas menyatakan bahwa Dia adalah “permulaan dari ciptaan Allah”

    Yesus ikut serta dalam proses penciptaan alam semesta, termasuk penciptaan manusia yang pertama Adam dan Hawa.
    Ibrani 1:1-4 menjelaskan hal itu ..”Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta”
    (Ibrani 1:1-4) Allah Berfirman dengan perantaraan Anak-Nya
    1:1 Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi,
    1:2 maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta.
    1:3 Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi,
    1:4 jauh lebih tinggi dari pada malaikat-malaikat, sama seperti nama yang dikaruniakan kepada-Nya jauh lebih indah dari pada nama mereka.

    Bagaimana Yesus yang berada di Sorga bisa berada di Bumi dan lahir sebagai manusia.

    Ini adalah hasil kerja Roh Suci Allah yang memindahkan kehidupan Yesus di Sorga untuk lahir sebagai manusia di bumi.
    Ibrani 1:5-13
    1:5 Karena kepada siapakah di antara malaikat-malaikat itu pernah Ia katakan: “Anak-Ku Engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini?” dan “Aku akan menjadi Bapa-Nya dan Ia akan menjadi Anak-Ku?”
    1:6 Dan ketika Ia membawa pula Anak-Nya yang sulung ke dunia, Ia berkata: “Semua malaikat Allah harus menyembah Dia.”
    1:7 Dan tentang malaikat-malaikat Ia berkata: “Yang membuat malaikat-malaikat-Nya menjadi badai dan pelayan-pelayan-Nya menjadi nyala api.”
    1:8 Tetapi tentang Anak Ia berkata: “Takhta-Mu, ya Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya, dan tongkat kerajaan-Mu adalah tongkat kebenaran.
    1:9 Engkau mencintai keadilan dan membenci kefasikan; sebab itu Allah, Allah-Mu telah mengurapi Engkau dengan minyak sebagai tanda kesukaan, melebihi teman-teman sekutu-Mu.”
    1:10 Dan: “Pada mulanya, ya Tuhan, Engkau telah meletakkan dasar bumi, dan langit adalah buatan tangan-Mu.
    1:11 Semuanya itu akan binasa, tetapi Engkau tetap ada, dan semuanya itu akan menjadi usang seperti pakaian;
    1:12 seperti jubah akan Engkau gulungkan mereka, dan seperti persalinan mereka akan diubah, tetapi Engkau tetap sama, dan tahun-tahun-Mu tidak berkesudahan.”
    1:13 Dan kepada siapakah di antara malaikat-malaikat itu Ia pernah berkata: “Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuh-Mu menjadi tumpuan kaki-Mu?”

    Derajat Yesus pada saat di bumi sedikit lebih rendah dari pada Malaikat-Malaikat.
    Ibrani 2:5-9
    2:5 Sebab bukan kepada malaikat-malaikat telah Ia taklukkan dunia yang akan datang, yang kita bicarakan ini.
    2:6 Ada orang yang pernah memberi kesaksian di dalam suatu nas, katanya: “Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya, atau anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?
    2:7 Namun Engkau telah membuatnya untuk waktu yang singkat sedikit lebih rendah dari pada malaikat-malaikat, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat,
    2:8 segala sesuatu telah Engkau taklukkan di bawah kaki-Nya. ” Sebab dalam menaklukkan segala sesuatu kepada-Nya, tidak ada suatupun yang Ia kecualikan, yang tidak takluk kepada-Nya. Tetapi sekarang ini belum kita lihat, bahwa segala sesuatu telah ditaklukkan kepada-Nya.
    2:9 Tetapi Dia, yang untuk waktu yang singkat dibuat sedikit lebih rendah dari pada malaikat-malaikat, yaitu Yesus, kita lihat, yang oleh karena penderitaan maut, dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat, supaya oleh kasih karunia Allah Ia mengalami maut bagi semua manusia.

    Dan di ayat-ayat berikut nya kita bisa lihat alasan2 mengapa Allah membawa putraNya untuk lahir sebagai manusia.
    Ibrani 2:10-18
    10: Sebab memang sesuai dengan keadaan Allah–yang bagi-Nya dan oleh-Nya segala sesuatu dijadikan–,yaitu Allah yang membawa banyak orang kepada kemuliaan, juga menyempurnakan Yesus, yang memimpin mereka kepada keselamatan, dengan penderitaan.

    11: Sebab Ia yang menguduskan dan mereka yang dikuduskan, mereka semua berasal dari Satu; itulah sebabnya Ia tidak malu menyebut mereka saudara,

    12: kata-Nya: “Aku akan memberitakan nama-Mu kepada saudara-saudara-Ku, dan memuji-muji Engkau di tengah-tengah jemaat,”

    13: dan lagi: “Aku akan menaruh kepercayaan kepada-Nya,” dan lagi: “Sesungguhnya, inilah Aku dan anak-anak yang telah diberikan Allah kepada-Ku.”

    14: Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematian-Nya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut;

    15: dan supaya dengan jalan demikian Ia membebaskan mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan oleh karena takutnya kepada maut.

    16: Sebab sesungguhnya, bukan malaikat-malaikat yang Ia kasihani, tetapi keturunan Abraham yang Ia kasihani.

    17: Itulah sebabnya, maka dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudara-Nya, supaya Ia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan yang setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa.

    18: Sebab oleh karena Ia sendiri telah menderita karena pencobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai.

    Mungkin cukup itu saja pembuktian saya bahwa Yesus adalah Anak Allah karena memang Yesus adalah Anak yang pertama dijadikan oleh Allah, Malaikat pertama yang diciptakan.

    Sebagai referensi malaikat2 di sorga di sebut sebagai Anak-Anak Allah.
    Ayub 1:8, “Pada suatu hari datanglah anak-anak Allah menghadap Tuhan..”

    Salam
    Hendharto

  3. @ Hendharto
    Inilah agama kolaborasi antara ajara paulus dengan ajaran romawi…
    Terlalu munafik bila anda mengatakan Tuhan itu memiliki anak dan sebagainya…..
    ALLOH SWT itu Esa dan tidak beranak….
    Bagaimana mungkin anda bisa memiliki Tuhan yang punya anak, merasakan dahaga dan lapar, bisa mati / disalib, memiliki hasrat manusiawi……
    Bagaimana mungkin anda berfikir kalau Tuhan Anda penebus dosa Adam kalau dia yang menentukan adab dan aturan…

    Apakah anda mengira Tuhan itu mahluk biasa………..????

Silahkan Komentar dan Berbagi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s